Home » Operasi Mata » Tips Mengobati Mata Minus » Biaya Operasi Lasik

Biaya Operasi Lasik

4,409 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Biaya operasi lasik di setiap layanan lasik center memang berbeda-beda. Biaya operasinya sekitar 20-40jt per mata atau per dua mata. Jika Anda saat ini sedang mencari referensi biaya operasi lasik, disini akan saya sharing pengalaman biaya operasi lasik di JEC Jakarta.

Lasik MataPengalaman biaya operasi lasik ini saya kutip dari blog https://matalasik.wordpress.com/2011/07/13/catatan-lasik/. Anda tidak perlu klik blog tersebut, karena sudah saya bagi disini seluruhnya tentang pengalaman biaya operasi lasik tanpa ada pengurangan satu kata pun. Semoga Anda mendapatkan pencerahan yang kiranya dapat Anda pertimbangankan untuk membiayai operasi lasik.

 

Dan ini ada video Review Lengkap LASIK MATA TEKNOLOGI TERBARU 2 HARI SEMBUH!

Silahkan di tonton sebelum Anda Putuskan Lasik. Tapi jika Anda merasa Ah nanti dulu deh lasiknya, Anda boleh coba Formula Eye agar sembuh dari mata minus dan silinder Tanpa Lasik >> http://formulaeye.com

 

Tabel Biaya Operasi Lasik2015

Berikut Cerita NYATA Pengalaman Operasi Lasik Mata Minus: Sdr. Efendi Arianto.

“Saya berumur hampir 44 tahun ketika memutuskan untuk melakukan operasi (lebih tepat disebut tindakan) lasik pada kedua mata saya. Sudah hampir 30 tahun saya menggunakan kacamata untuk melihat jauh. Tulisan ini saya buat untuk menjadi referensi bagi mereka yang berniat menjalani prosedur lasik. Selain mempersiapkan diri secara fisik, perlu juga mempelajari berbagai hal mengenai prosedur lasik. Apa untung ruginya, sehingga pilihan untuk menjalani prosedur lasik dapat dijalani dengan optimal.

Sebenarnya lima tahun lalu pernah hampir melakukan tindakan lasik, tapi dokter yang saya temui menolak melakukannya karena ketebalan kornea mata saya tidak mencukupi. Dibutuhkan ketebalan kornea minimal 500 mikron untuk bisa dilakukan tindakan lasik. Waktu itu teknologi lasik masih menggunakan pisau mikro keraton untuk membuat flap pada kornea, tidak seperti sekarang yang bisa sepenuhnya menggunakan laser.

Penasaran apakah dengan teknologi baru mata saya bisa menjalai prosedur lasik, saya memeriksakan diri di Jakarta Eye Center (JEC) Menteng.

Tanggal 18 April 2011, saya datang ke JEC, setelah sebelumnya mendaftar lewat telepon untuk bertemu dengan dokter Hadisudjono. Saya ingin memastikan apakah saya bisa menjalani prosedur lasik untuk kedua mata saya. Sebelum bertemu dokter, ada serangkaian pemeriksaan mata dengan berbagai alat yang menghabiskan biaya lebih dari satu juta rupiah.

Hasil pemeriksaan:
Mata kanan -5.5, +1,5, Cyl 0.5.
Mata kiri -6.25, +1,5, Cyl 0.5.

Dalam konsultasi dan pemeriksaan pendahuluan, dikarenakan ketebalan kornea saya minimal (493, normal 500-600), dokter bilang, tindakan lasik hanya akan menghilangkan minus saja, sementara plus-nya akan muncul setelah lasik. Sehingga setelahnya saya harus menggunakan kacamata baca. Ok! Sudah kebayang akan membeli kacamata baca kecil yang bisa dilipat, beberapa buah, satu disimpan di kantor, satu di rumah, dan satu di mobil … :-D

Di JEC, biaya lasik tanpa pisau (intralase/Z-lasik) untuk dua mata adalah sebesar Rp20 juta + Rp36 ribu (kalau menggunakan pisau, biayanya lebih murah sekitar separuhnya). Biaya tersebut adalah per Mei 2011, terdiri atas:
– Kamar bedah dan obat Rp16.800.000
– Honor dokter bedah Rp3.200.000
– Biaya administrasi dan meterai Rp36.000

28 Mei 2011, datang lagi ke dokter, penasaran ingin tanya, apakah silindris-nya juga bisa hilang, sekalian nanya preferensi waktu untuk tindakan lasik. Dokter bilang silindris bisa hilang. Sesuai karakteristik mata saya, tidakan lasik yang sesuai adalah teknik lasik intralase. Kata Dokter Hadi, karena dia praktek di JEC hari Senin, Rabu dan Jumat, maka sebaiknya tindakan lasik dilakukan pada hari Selasa atau Jumat pagi, biar keesokan harinya bisa periksa pasca tindakan.

Pikir sana pikir sini, akhirnya dapat hari yang cocok pas kerjaan di kantor tidak terlalu banyak, Jumat tanggal 10 Juni 2011. Saya lihat di fengshui hari baik (LOL), tanggal tersebut adalah hari baik untuk melakukan kegiatan apa saja :-D

Beberapa hari browsing sana-sini di internet, cari tahu detil teknik intralase, cari video tindakan lasik di youtube, baca pengalaman orang-orang yang pernah melakukan tindakan lasik. Kebanyakan yang tulisan pengalamannya bagus orang-orang Amerika, jarang yang tulisan orang Indonesia dengan penjelasan teknis dan detil.

10 Juni 2011 (hari tindakan lasik)

06.46 sudah tiba di JEC, naik taksi ditemani istri. Sebelumnya ditelpon staf JEC untuk datang pkl. 07.00. Tapi ternyata unit layanan lasik belum buka! Tahu gitu datang agak siangan …

07.00 Resepsionisnya datang, langsung lapor mau lasik. Trus, si Mbak resepsionis nampak berkoordinasi sana sini.

07.30 Ganti baju, dan menunggu dipanggil masuk ruang tindakan. Diminta tandatangan surat persetujuan tindakan, istri juga tandatangan sebagai saksi. Jadi memang harus bawa kerabat, tidak bisa datang sendirian.

07.40 Periksa tekanan darah, tetes mata, sekitar mata diolesi betadine.

08.10 Belum juga dipanggil masuk ruang tindakan. Susternya bilang dokternya lagi melakukan operasi di atas. Jadi mesti nunggu sebentar …, sempat melihat suster/perawat yang sekaligus berperan sebagai operator mesin lasik, menguji tembak laser di lempengan logam … :-), semuanya computer based …

08.30 Masuk ruang operasi, briefing sebentar oleh dokter dan perawat. Ruangan operasinya berdinding kaca, jadi kerabat yang kita bawa bisa melihat proses lasik dilakukan …

Di dalam ruang operasi terdapat dua meja operasi (lebih tepat disebut ranjang operasi) dengan dua mesin yang berbeda. Satu mesin laser untuk membuat flap, dan satunya mesin laser untuk melakukan proses wavefront lasik.

Pembuatan flap dengan intralase ternyata memang terasa tidak nyaman. Dokter juga menyampaikan hal ini. Ada rasa tidak nyaman ketika mata “disedot” untuk dilaser. Ketika laser memotong flap, juga seperti ada sedikit rasa perih yang berjalan di sepanjang jalur flap. Proses ini berlangsung sekitar 18 detik. Dilakukan bergantian untuk mata kanan dan kiri.

Setelah proses pembuatan flap selesai, pindah ke meja operasi sebelah, untuk proses wavefront lasik. Pada proses ini terasa jauh lebih nyaman. Memerlukan waktu sekitar 15 detik untuk penyinaran laser. Mata kanan terlebih dahulu, dan kemudian mata kiri. Satu-satunya kesulitan yang saya alami adalah membuka kedua mata. Mata yang dilasik memang “dipegang dengan alat pembuka” sehingga selalu terbuka. Mata satunya bebas. Pada saat mata kanan dilasik, saya harus membuka mata kiri supaya lensa mata bisa fokus ke “titik hijau” yang diminta untuk dilihat. Rasanya sulit sekali karena sebelumnya ditetesi obat anestesi sehingga merasa seperti sangat mengantuk. Beberapa kali dokter dan suster memerintahkan untuk membuka kedua mata.

09.00 Selesai. Istirahat sebentar. Kemudian sempat saya lihat jam dinding menunjukkan waktu 09.05 ketika saya keluar dari ruang operasi.

Sekitar setengah jam disuruh istirahat di ruang tunggu, sambil menggunakan kacamata pelindung yang sebelumnya diberikan. Pada saat itu dokter sempat memberikan penjelasan pasca operasi. Dia bilang sikap saya selama proses operasi sangat kooperatif sehingga membuat proses operasi dapat berjalan efektif dan cepat. Dokter juga menyampaikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam beberapa hari ke depan.

Pada saat itu sekalipun dapat melihat, tetapi pandangan masih kabur, dan mata masih terpengaruh obat anestesi.

Setelah melakukan pembayaran (Rp20juta) dan pengambilan obat (Rp570 ribu untuk vitamin dan dua macam obat tetes mata anti radang dan antibiotik), saya langsung pulang ke rumah, naik taksi. Kebetulan rumah saya hanya berjarak tempuh kurang dari setengah jam dari JEC.

Sesampai di rumah, seperti kata dokter, kedua mata akan terasa sakit dan terus keluar air mata selama dua jam. Nampaknya hal itu mulai terjadi ketika efek obat bius di mata sudah mulai hilang. Selama hampir dua jam mata terasa sakit dan pegal. Air mata terus keluar, seperti orang menangis, hidung jadi mampat. Untuk mengurangi rasa sakit, saya minum dua butir Ponstan yang sebelumnya diberikan oleh suster di JEC.

Sempat tertidur, dan terbangun karena perut lapar pada pkl 12.15. Rasa sakit di mata sudah tidak terasa.

Kondisi mata:
Pandangan sudah mulai stabil. Baik mata kanan dan kiri bisa melihat jauh dengan jelas. Sebagaimana disampaikan oleh dokter, rabun dekat pada mata saya akan muncul. Tapi nampaknya rabun dekat untuk mata kiri saya lebih parah dari mata kanan. Masih belum bisa membaca buku atau sms/bbm. Baru bisa tahu kepastiannya pada saat kontrol ke dokter besok pagi.

Pada malam hari, sebagaimana diduga, nampak efek “halo” pada saat melihat lampu, terutama sorotan lampu mobil. Sesuai yang saya baca di internet, efek “halo” memang normal terjadi karena bentuk kornea yang sebelumnya melengkung, sekarang menjadi lebih rata. Baru akan bisa merasakan efeknya apakah mengganggu atau tidak, pada saat mengendarai mobil di malam hari. Beberapa kasus di internet mengatakan kalau efek halo ini lambat laun akan menghilang.

Setiap jam tetes mata, gantian antara obat tetes antibiotik dan tetes mata anti radang, dengan selang minimal lima menit. Kacamata pelindung selalu dipakai, terutama pada waktu tidur, untuk menghindari “kucekan” pada mata secara tidak sengaja. Selama dua minggu tidak boleh mandi keramas, untuk menghindari partikel sampo/sabun masuk ke mata.

11 Juni 2011 (satu hari setelah lasik)

06.00 Saya coba lihat kejauhan, kualitas penglihatan mata kanan dan kiri sama. Tetes mata lagi. Pandangan dekat untuk membaca dengan jarak 40 cm, mata kiri tidak sebaik mata kanan. membaca tulisan di layar komputer dengan jarak 50 cm, mata kiri tidak sebaik mata kanan.

10.30 Berangkat ke JEC pakai taksi. Sampai di JEC melakukan pendaftaran dan menunggu panggilan. Pada saat menunggu sambil menonton TV, saya menyadari pandangan mata kanan saya tidak setajam sebelumnya. Kalah tajam dari mata kiri, seperti kondisi minus satu. Terus terang saya panik, kok bisa tiba-tiba begitu. Ketika diperiksa saya tanyakan hasilnya kepada petugas periksa mata, dia nggak mau bilang, biar nanti dokter yang menjelaskan, katanya.

Ketika bertemu dokter, saya sampaikan keluhan saya, dia tidak memberikan penjelasan yang memuaskan. Kata dokter mata saya baik-baik saja. Dites melihat jauh dengan membaca tulisan di dinding dengan kedua mata terbuka, juga melihat dekat dengan membaca tulisan di kertas, juga dengan kedua mata harus dibuka. Saya bilang mata kanan saya tidak bisa melihat jauh dengan baik, dokter bilang yang penting bisa melihat dengan kedua mata terbuka, nanti otak akan menyesuaikan dan terbiasa dengan kondisi tersebut. Dokter juga bilang untuk menghindari sinar matahari langsung karena sinar ultra violet bisa mengganggu proses penyembuhan pasca lasik.

Sesampai di rumah, saya BBM dokter Hadisudjono. Saya ceritakan dengan detil perkembangan mata saya pasca operasi hingga terjadinya penurunan kualitas pandang mata kanan saya. Dokter menjawab bahwa kondisi pada hari pertama pasca lasik tidak dapat dijadikan patokan, dan meminta agar hari Senin pagi datang ke JEC lagi untuk dapat dilakukan pemeriksaan yang lebih lengkap.

Kondisi mata sehari setelah lasik:
Pandangan jauh, mata kiri optimal, mata kanan seperti -1.
Pandangan jarak dekat, baca buku atau sms/bbm jarak 30-40 cm, mata kanan optimal, mata kiri buram (kemungkinan +1 atau +1,5); baca layar monitor komputer, mata kanan optimal, mata kiri agak buram.

12 Juni 2011 (dua hari setelah lasik)

04.00 (subuh-subuh ….) browsing internet cari tahu tentang berbagai pengalaman lasik, penasaran dengan apa yang terjadi pada mata kanan saya. Hmmm …. ini dia sebabnya: kayaknya dokter Hadi memang melakukan teknik lasik monovision. Artinya, satu mata dibuat untuk mampu melihat jauh dengan baik, dan satu mata dibuat untuk dapat melihat dekat dengan baik. Keunggulan monovision adalah tidak perlu menggunakan kacamata baca untuk membaca tulisan dalam jarak dekat (jarak baca). Kata pengalaman orang yang ditulis di internet, kondisi stabil penglihatan pasca tindakan lasik memang memerlukan waktu berbulan-bulan, dan selama itu akan terjadi perubahan (bisa naik turun) untuk akhirnya stabil pada satu waktu tertentu. Ada bahkan yang baru stabil setelah 330 hari, atau hampir setahun pasca tindakan lasik.

Hanya saja, saya penasaran: kenapa dokter Hadi tidak bilang sebelumnya kalau dia mau melakukan teknik monovision? bukannya sebelumnya dia bilang pasca tindakan lasik saya harus pakai kacamata baca dan minus mata saya hilang?

Kondisi mata dua hari setelah lasik:
Pandangan jauh, mata kiri optimal, mata kanan seperti -1.
Pandangan jarak dekat, baca buku atau sms/bbm jarak 30-40 cm, mata kanan optimal, mata kiri buram (kemungkinan +1 atau +1,5); baca layar monitor komputer, mata kanan optimal, mata kiri cukup jelas (ini improvement dari kondisi kemarin).

10.00 ke ITC Kuningan, cari kacamata dengan lensa anti UV dan anti radiasi. Paling tidak bisa dipakai selama beberapa minggu atau bulan sampai kondisi mata stabil. Lagian, kata istri, lantaran sudah terbiasa pakai kacamata, wajah saya jadi “aneh” kalau nggak pakai kacamata … :-D, jadi sementara waktu pakai kacamata dengan lensa normal yang ada anti radiasi dan anti UV saja.

Iseng cek mata di optik, hasilnya:
Mata kiri: Jauh = nol, Dekat = +1.25
Mata kanan: Jauh = -0.75, Dekat = +1.25
Kombinasi dua mata: Jauh = nol, Dekat = normal (bisa baca pada jarak 30-40 cm)

13 Juni 2011 (tiga hari setelah lasik)

10.00 Ke JEC Menteng, mau ketemu dokter Hadi.

11.00 Setelah periksa pendahuluan, ketemu dokter Hadisudjono. Saya melakukan diskusi lumayan panjang dengan dokter Hadi terkait hasil lasik pada mata saya. Inti dari diskusi yang saya lakukan dengan dokter Hadi:

1. Saya sampaikan kepada dokter Hadi bahwa saya percaya dokter Hadi telah melakukan usaha yang terbaik berdasarkan pertimbangan medis dan pengalamannya untuk melakukan tindakan yang diperlukan pada saat melakukan tindakan lasik pada kedua mata saya. Sayangnya, ternyata ada opsi monovision yang dapat diterapkan pada mata saya, yang tidak pernah disampaikan kepada saya sebelumnya. Seharusnya saya diberitahu di depan, selain opsi menghilangkan minus pada kedua mata, juga dapat dilakukan skenario monovision, di mana kemampuan untuk membaca pada jarak dekat tetap dipertahankan pada satu mata. Dan seharusnya, pilihan terhadap opsi yang ada harus diambil berdasarkan persetujuan saya. Yang saya pahami sejak awal adalah, bahwa minus pada kedua mata saya akan dibuat nol, dan konsekuensinya saya harus menggunakan kacamata baca pada saat melihat dekat. Tetapi ternyata, yang dilakukan dokter Hadi pada saat melakukan tindakan lasik pada tanggal 10 Juni 2011 adalah mengambil skenario monovision. (Kalau di luar negeri, pasien bahkan diberikan kesempatan “mencoba” kondisi monovision dengan menggunakan lensa kontak yang diatur seperti kondisi yang akan didapat setelah lasik. Jadi, seharusnya keputusan memilih monovision atau tidak, pasien-lah yang menentukan, bukan dokter. Soalnya lasik itu hanyalah tindakan korektif, bukan tindakan kritis yang membahayakan nyawa orang. Sudah seharusnya pilihan ada di tangan pasien).

2. Dokter Hadisudjono minta maaf karena tidak memberi tahu di awal bahwa ada opsi monovision, yang dalam praktek cocok diterapkan bagi penderita mata minus sekaligus plus. Dokter Hadi mengakui mengambil keputusan untuk mengurangi koreksi sebesar 0.5 dari yang seharusnya 5.5 untuk mata kanan, dan mengurangi koreksi sebesar 0.25 dari yang seharusnya 6.25 untuk mata kiri. Pengurangan tersebut karena mepertimbangkan opsi monovision yang dirasa lebih cocok untuk karakteristik mata bagi seseorang yang berumur 40-an seperti saya.

3. Jika memang menginginkan minus di mata kanan dihilangkan, maka bisa dilakukan tindakan koreksi ulang. Tindakan ini tidak memerlukan pembuatan flap ulang, karena flap-nya masih ada (flap memang masih akan ada bahkan hingga periode setahun pasca pembuatan flap). Jadi tinggal lasiknya saja. (Belakangan saya iseng browsing di internet, biaya ulang lasik diberikan secara gratis, atau kalaupun ada biayanya jauh lebih murah dari biaya lasik normal).

4. Saya sampaikan ke dokter bahwa saya akan mencoba membiasakan diri dengan kondisi monovision terlebih dahulu, siapa tahu akan cocok dengan kondisi ini. Sekalipun dengan kondisi monovision ini, kata dokter Hadi, setelah tiga tahun pada saat plus mata meningkat, bisa saja akan memerlukan kacamata bantu untuk melihat dekat.

5. Ketemu lagi untuk kontrol dua minggu ke depan, tanggal 25 Juni 2011.
17 Juni 2011 (satu minggu setelah lasik)

Kondisi mata masih sama seperti kondisi pada tgl. 12 Juni.

Sejak kemarin sudah berani mandi dengan pancuran air dan membasahi kepala. Tapi masih berhati-hati dan menjaga agar air tidak masuk ke mata.

Pagi tadi, pada saat melihat tulisan di layar TV, saya bisa membacanya dengan mata kanan. saya rasa minus mata kanan yang sebelumnya tercatat -0.50 hingga -0.75 menurun, mungkin menjadi sekitaran -0.25 hingga -0.50. Konsekuensinya, saya tidak bisa membaca tulisan kecil dengan jelas pada jarak 30 cm. Baru nampak jelas pada jarak 40 cm. Jadi, mata kanan pada posisi minus 0.5 dan plus 1.25. Semalam mencoba kacamata baca dengan plus 1.25 yang harganya Rp30-an ribu, mata kiri bisa baca dekat dengan jelas. Jadi nampaknya mata kiri stabil pada posisi minus nol dan plus 1.25. Tapi ternyata cuma sementara, siangnya kembali ke posisi sebelumnya.

27 Juni 2011 (dua minggu setelah lasik)

Kontrol ke dokter Hadisudjono di JEC.

Kondisi mata tetap stabil seperti kondisi satu minggu yang lalu.

Waktu saya tanya ke dokter, berapa posisi minus dan plus, Dokter bilang, kondisi mata saya:
Kiri, -0.0, +1.0; Kanan, -1.0, +1.0

Kesimpulan saya, mata kiri saya yang seharusnya tersisa -0,25 menjadi nol. Sedangkan mata kanan saya yang seharusnya tersisa -0,50 menjadi -1.00. Hasil pengamatan, mata kiri bisa melihat jelas mulai jarak 50 cm hingga jarak jauh. Mata kanan bisa melihat jelas dari jarak 30 cm hingga 50 cm.

Sempat tanya ke dokter, berapa biaya yang diperlukan untuk tindakan koreksi lasik guna menghilangkan sisa minus di mata kanan. Dokter bilang, tindakan koreksi sifatnya gratis. Hanya saja, dokter tidak merekomendasikan dilakukannya tindakan koreksi mengingat ketebalan kornea mata saya yang di bawah normal. Bisa benar bisa tidak. Karena saya masih saja memegang perkataan dokter Hadisudjono pada saat konsultasi awal, bahwa minus mata saya bisa hilang. Tapi, saya juga merasa terlalu riskan kalau memaksakan untuk mengambil resiko melakukan koreksi lasik. Hmmm …, mungkin saya memang harus membiasakan diri mempunyai mata monovision. Anyway, it is not bad at all …

Dokter juga bilang, kondisi mata saya yang berlaku sekarang akan bertahan kira-kira hingga satu tahun (lho, bukannya minggu lalu bilang tiga tahun?), setelahnya angka plus mata akan bertambah, sehingga akan memerlukan kacamata untuk membaca. Masuk akal, jika plus mata kanan saya bertambah, sementara minus tetap -0.75, maka memang perlu kacamata tambahan untuk dapat melihat dekat.

Diminta untuk kontrol lagi dalam jangka waktu satu bulan ke depan. Selama itu, tetes mata antibiotik tetap harus dikonsumsi 3X sehari, sedangkan tetes mata anti radang 2X sehari (lho, bukannya minggu lalu dokter bilang setelah dua minggu pasca lasik tetes antibiotik cukup 2X sehari? …, eniwei, dituruti saja).

Untuk sehari-hari, diminta tidak menggunakan tetes mata “air mata buatan” yang standar, karena ada zat pengawetnya. Lebih baik pakai yang diresepkan saja, atau pakai tetes mata tanpa pengawet. Tetes mata pelembab mata diperlukan karena setelah lasik, untuk sementara waktu, mata akan cenderung menjadi kering. Hal ini terjadi karena “saluran irigasi” pada mata sebagian terputus pada saat pembuatan flap.

Oh ya …, efek “halo” tidak terlalu mengganggu, dan saya masih bisa mengendarai mobil di malam hari dengan nyaman seperti sebelum lasik.

9 Juli 2011 (satu bulan setelah lasik)

Kondisi mata saya masih tetap sama:
Mata kiri -0.0, +1.0
Mata kanan -1.0, +1.0 (terkompensir, jadi bisa baca dekat)

27 Juli 2011 (enam minggu setelah lasik)

Hari ini kontrol rutin ke dokter Hadisudjono. Antriannya panjang … :-(, datang di JEC pkl. 11.30, baru ketemu dokter pkl. 13.00. Itupun cuma sekitar 3 menit.

Hasil pemeriksaan, kondisi mata masih tetap sama. Saya tanyakan mengenai efek berbayang ke bawah kalau melihat tulisan signage lampu (misalnya billboard atau papan penunjuk arah yang tulisannya menggunakan sinar lampu).
Visualisasi efek “Halo” yang saya alami

Dokter bilang, itu adalah efek “halo”. Dokter menyarankan agar sering menggunakan tetes mata dan minum vitamin C untuk mengurangi efek “halo” yang saya alami.

Sebelumnya saya sempat BBM dokter Hadisudjono, bahwa seandainya mata kanan saya masih memungkinkan untuk dilakukan koreksu ulang, maka saya akan mempertimbangkan untuk melakukannya. Hari ini sempat saya diskusikan detil hasil lasik saya. Dokter menunjukkan bahwa kondisi awal ketebalan kornea mata saya adalah, mata kiri= 493 mikron dan mata kanan = 491 mikron. Setelah lasik menjadi 298 dan 308 mikron. Ketebalan minimal yang disyaratkan paska lasik adalah 250 mikron, jadi secara teknis, mata kanan saya yang masih tersisa minus satu, masih bisa dilakukan koreksi.

Untuk itu, dokter meminta saya bertemu dengan dokter Johan, besok sore, untuk mendapatkan second opinion mengenai apakah tindakan koreksi lanjutan pada mata kanan saya memungkinkan untuk dilakukan.

28 Juli 2011

Saya pergi ke JEC lagi, cari second opinion dengan dokter Johan Hutauruk, sesuai saran dokter Hadisudjono kemarin. Sampai di JEC pkl. 17.00 dan pkl. 18.05 dipanggil masuk ke ruang praktek dokter Johan.

Sebenarnya saya tidak berharap akan memperoleh second opinion yang kontradiktif. Maklum, masih sama-sama dokter JEC, jadi esprit de corps sesama dokter pasti akan terjadi … :-) Tapi, oke-lah, paling tidak saya bisa menanyakan beberapa hal teknis yang saya juga ingin tahu.

Ketika membaca catatan medis dan nota pengantar dari dokter Hadi, jelas nampak dokter Johan berfikir sejenak sambil bilang, “Sebentar, saya baca dulu catatan medisnya …”.

Saya jelaskan kondisi mata saya sebelum dan setelah lasik, Saya sampaikan bahwa saya ingin tahu dengan kondisi mata saya paska lasik, apakah masih memungkinkan untuk dilakukan koreksi ulang pada mata kanan saya.

Dokter Johan menjelaskan dengan hati-hati, dan intinya tidak merekomendasikan untuk dilakukan koreksi ulang. Kalau dipaksakan koreksi ulang, kornea akan menjadi terlalu tipis dan bisa muncul resiko terjadinya corneal ectasia (lihat deskripsinya di http://www.eyefreedom.com/cornealectasia.php). Pada kondisi ini kornea bisa “menggelembung”, dan bisa berakibat pada kebutaan.

Sebenarnya saya ingin berargumen bahwa ketebalan kornea saya masih di atas batas minimal 250 mikron, jadi kekuatiran terjadinya corneal ectasia mungkin agak berlebihan. Cuma, tidak saya lakukan, dan saya tidak ingin terlalu argumentatif karena pertimbangan yang sudah saya sebut di atas … :-D

Selebihnya saya pergunakan waktu konsultasi untuk menanyakan dan mengkonfirmasikan beberapa hal:

1. Pada pagi hari ketajaman mata lebih baik dibanding pada saat siang hari, dokter bilang karena pada saat kita tidur, tidak terjadi penguapan air mata.

2. Kondisi mata saya saat ini akan bertahan sekitar tiga tahun, setelahnya rabun dekat akan meningkat.

3. Under correction mata kiri saya 0,25 dan menghasilkan minus nol, sedangkan under correction mata kanan saya 0,5 tetapi menghasilkan minus satu. Dokter menjelaskan bahwa proses lasik dilakukan pada organ hidup, sehingga banyak faktor ikut berpengaruh, misalnya gerakan pada mata pada saat proses lasik dilakukan.

Oleh dokter Johan saya diberi obat tetes mata untuk diteteskan empat kali sehari, dan vitamin yang diminum satu tablet sehari. Dokter bilang, mudah-mudahan obat yang diberikan bisa membantu meningkatkan ketajaman penglihatan dalam tiga bulan ke depan, bahkan dokter Johan menyebutkan mungkin bisa membaik hingga mencapai minus setengah.

Dokter meminta saya kontrol lagi kepada dokter Hadisudjono satu bulan kemudian.

10 Sep 2011 (tiga bulan setelah lasik).

Kontrol ke JEC. Kondisi mata stabil seperti sebelumnya. Dokter Hadisudjono menanyakan apakah ada keluhan, saya bilang efek halo masih terasa. Oleh dokter diberikan resep obat tetes mata Lubricen serta vitamin C dan Omega 3 untuk mengurangi efek halo. Semua obat tersebut bisa dibeli bebas. Vitamin C dan Omega 3 diminum sehari sekali bersamaan.

Saya juga minta dibuatkan resep untuk kacamata lensa progresif. Inilah resep dari dokter:

Mata kanan: -1.00 dan +1.50
Mata kiri: plano dan +1.50

Diminta kontrol kembali enam bulan dari sekarang.

10 Des 2011 (enam bulan setelah lasik).

Kondisi mata saya masih sama. Stabil. Efek Halo masih ada. Masih tetap rutin meneteskan Cenfresh kalau mata terasa kering, maklum, sehari-hari bekerja di ruangan ber-AC.

10 Jun 2012 (satu tahun setelah lasik).

Kondisi mata tetap sama.

Mata kanan: -1.00 dan +1.50
Mata kiri: plano dan +1.50

Efek Halo juga masih ada, terutama jika mata dalam kondisi lelah dan kering, tetapi tidak separah masa-masa awal pasca lasik.

10 Jun 2013 (dua tahun setelah lasik).

Kondisi mata tetap sama.

Mata kanan: -1.00 dan +1.50
Mata kiri: plano dan +1.50

Efek Halo juga masih ada, sekalipun tidak terlalu mengganggu.

10 Jun 2014 (tiga tahun setelah lasik).

Kondisi mata tetap sama.

Mata kanan: -1.00 dan +1.50
Mata kiri: plano dan +1.50

Efek Halo juga masih ada, terutama ketika kondisi mata kering, atau ketika tekanan darah agak rendah.

Saran saya bagi yang hendak melakukan tindakan lasik:

1. Kalau minus mata cuma <3, mending gak usah lasik deh. Soalnya nanti kalau umur sudah di atas 40 tahun, bakal muncul plus pada mata, dan itu akan dikompensir oleh minus sehingga masih akan tetap dapat melihat dekat (membaca). Pada kondisi ini, minus mata yang cuma 2-3 justru “menguntungkan”.

2. Kalau umur di atas 40 tahun, mata sudah ada plus dan berminat melakukan tindakan lasik, pastikan dan tanyakan dengan jelas kepada dokter kelebihan dan kekurangan setiap opsi yang ada. Apakah minus dan plus akan dihilangkan, apakah minus saja yang akan dihilangkan, atau akan dibuat monovision. Jika disarankan opsi monovision, minta dokter untuk meresepkan lensa kontak yang mengkondisikan mata menjadi monovision. Hal ini perlu dilakukan untuk mencoba kondisi monovision selama beberapa waktu. Jika nyaman dengan kondisi tersebut silahkan didiskusikan lebih lanjut dengan dokter.

3. Cari dokter dengan jam terbang tinggi untuk penanganan lasik. Cari referensi dokter yang akan menangani, baik kepada teman, kerabat atau siapapun yang pernah melakukan operasi lasik. Hubungan pasien dengan dokter memerlukan hubungan pribadi yang dekat, jadi memang susah-susah gampang, soalnya kita harus mempercayakan penanganan mata kita padanya. Kalau perlu, lakukan “shopping around” sampai menemukan dokter yang dirasakan cocok.

4. Lihat berbagai video tindakan lasik yang tersedia di YouTube. Baik yang dilakukan dengan pisau bedah, maupun yang sepenuhnya dilakukan dengan laser. Ini akan membantu kita memahami setiap tahapan dari tindakan lasik, dan membantu membuat kita merasa lebih nyaman pada saat menjalani proses lasik.

5. Lasik bukanlah tindakan emergency, sebenarnya sifatnya hanya sebuah tindakan “kosmetik”, seperti operasi plastik untuk kecantikan. Jadi bukan keharusan. Tetapi tetap saja ada resiko yang bisa terjadi. Memerlukan pertimbangan matang untuk melakukannya, apalagi biaya yang diperlukan juga besar. Namun demikian, jika anda memiliki minus mata yang relatif tinggi, mempunyai cukup dana, memenuhi persyaratan fisik untuk menjalani tindakan lasik, maka saya termasuk yang merekomendasikan anda untuk mencoba menjalani tindakan lasik. Sejujurnya, kehidupan saya setelah lasik menjadi lebih mudah saya jalani dibandingkan sebelumnya ketika masih memakai kacamata tebal. Namun harus disadari bahwa tindakan koreksi yang dilakukan oleh manusia tidaklah bisa menggantikan kesempurnaan ciptaan Tuhan. Jadi kalau ada ketidaksempurnaan dari hasil tindakan lasik, kita harus bisa memahaminya.

6. Rekomendasi dokter mata di JEC? saya hanya pernah berinteraksi dengan dokter Hadisudjono dan dokter Johan Hutauruk. Kalau anda tipe orang yang berprinsip “Saya percayakan sepenuhnya kepada dokter untuk kebaikan mata saya”, maka dokter Hadisudjono merupakan orang yang tepat. Tetapi jika anda tipe orang yang bersikap “Saya ingin mendiskusikan secara detil berbagai kemungkinan yang ada dan biarkan saya ikut memutuskan apa yang sebaiknya dilakukan terhadap mata saya”, maka dokter Johan adalah sosok yang cocok untuk anda.

Semoga mencerahkan …

Terima kasih saya sampaikan untuk Sdr. Efendi Arianto. Sumber: www.matalasik.wordpress.com

Biaya operasi lasik memang masih mahal sehingga tidak semua orang bisa membayarnya. Disamping itu, sebagian orang juga ada yang takut dioperasi. Untuk itulah, kami memperkenalkan Obat Terapi Mata Minus yang sudah ratusan orang terbukti efektif menyembuhkan atau meringankan minus/rabun jauh. Karena ekstrak herbal terapi mata minus yang ada dalam obat tetes mata dan kapsul yang dipakai pasien dapat menyegarkan saraf-saraf optik mata yang sudah lemah, sehingga mata yang minus dan silindris dapat menjadi nor­mal kembali.

 

Apabila Anda khawatir dengan resiko operasi lasik atau ingin mencoba alternatif lain untuk mengatasi mata minus. Silakan Anda menunda operasi lasik dan mencoba Obat Terapi Mata Minus. Kecuali dalam kondisi tertentu dimana dokter Anda menyarankan untuk segera melakukan operasi lasik.

Salam sehat, cerah dunia Anda.

www.terapimataminus.com